Fanboy, Salah Satu Kunci Kekuatan Bisnis Apple

Tidak dapat dipungkiri bila kekuatan sebuah produk ada pada para penggemarnya. Sebut saja para fans club sepak bola macam Liverpool dengan Liverpudlian-nya, kemudian AC Milan dengan Milanisti-nya melalui salah satu kelompok garis keras (ultras) yang dinamai Curva Sud, maupun suporter Real Madrid dengan sebutan Madridistas-nya.

Tidak kalah pula, Persija Jakarta dengan The Jakmania-nya, lalu Persib Bandung dengan para Bobotoh-nya, dan Persebaya Surabaya dengan Bonek-nya atau Bondo Nekat alias Modal Nekat.

Sama halnya dengan para artis dan musisi, seperti Slank dengan Slankers-nya, Iwan Fals dengan OI-nya, lalu Dewa dengan Baladewanya, atau Noah dengan Sahabat Noah-nya.

Hal tersebut mencerminkan betapa kekuatan sebuah produk dapat tetap langgeng dan selalu diminati berkat adanya ikatan erat emosional satu sama lain, penyaji produk dengan pengguna produk.

Dan hal itu disadari betul oleh para petinggi Apple yang bermarkas di Cuppertino California, Amerika Serikat, melalui strategi peningkatan anggaran untuk pemasaran produk-produknya.

Fanboy Adalah

Fanboy atau Fangirl adalah sebutan bagi orang-orang yang merupakan penggemar fanatik dari suatu produk, apapun itu, termasuk salah satunya produk smartphone besutan Apple Inc, yang dinamai dengan iPhone.

Mereka akan rela mengantre meski berjam-jam lamanya di gerai Apple Store yang ada, hanya untuk mendapatkan produk iPhone terbaru.

apple-fan-boy

Dan, yang “gila”-nya lagi, terkadang mereka bukan cuma mengantre berjam-jam di negaranya sendiri, melainkan di negara lain, seperti Singapura, karena memang peluncuran iPhone dan produk Apple lainnya dilakukan lebih dahulu dibanding di Indonesia, yang waktunya bisa berbeda 2 atau 3 bulan.

Fanboy Tenaga Pemasar Gratisan Apple

Ya, fanboy adalah tenaga pemasar gratisan Apple. Disebut demikian, karena hal ini seperti ketika kita makan bakso, atau makanan kulineran. Saat kita mendapati bakso dengan rasa yang enak, makan kita akan dengan tulus dan ikhlas memberitahukan hal itu kepada teman-teman, tetangga, ataupun saudara kita.

Dapat dikatakan Itu sebagai sebuah kekuatan mouth to mouth, untuk mengistilahkan dari mulut ke mulut. Maksudnya, kita memberi informasi kepada orang lain tentang sebuah produk yang dirasa unggul, dalam contoh diatas yaitu bakso.

Begitupun dengan para fanboy, sudah pun produknya memiliki kualitas, dan bisa dikatakan pengguna produk Apple bukan dari pengguna kebanyakan, maka jadilah fanboy atau fangirl layaknya sedang bekerja untuk Apple sebagai tenaga pemasar gratis.

fanboy-and-fangirl-apple

Para fanboy juga dapat tetap eksis dengan alasan yang mereka kemukakan untuk mempertahankan argumen atas apa yang mereka yakini, yaitu bahwa produk iPhone selalu lebih unggul dibanding produk-produk dari para kompetitor Apple.

Fanboy Apple sangat percaya bahwa produk-produk Apple, seperti Mac adalah perangkat keras terbaik yang tidak akan crash atau hang, dan kebal terhadap serangan virus. Meski alasan sebenarnya, si pembuat virus lebih menyukai Windows ketimbang Mac karena populasi pengguna OS Windows yang lebih banyak ketimbang penguna macOS.

Dan terkadang, mereka bisa sangat agresif dalam mempertahankan argumennya tentang produk iPhone sebagai yang terbaik, terhebat, maupun hal-hal yang dianggap positif menurut mereka, sambil menyerang pengguna lain diluar produk Apple, seperti para pengguna smartphone berbasis OS Android.

***

Penutup

Sebegitu fanatisnya para fanboy maupun fangirl adalah buah dari kesuksesan sebuah produk yang dibungkus dalam sebuah merek berbentuk loyalitas.

a-true-apple-fanboy

Bukan tanpa sebab bila Apple dinilai sebagai salah satu merek paling berpengaruh di dunia berkat kerja keras jajaran Apple, yang awalnya dikomandoi oleh Steve Jobs dan kini dilanjutkan oleh Tim Cook, dalam menghadirkan portofolio produk-produk yang mapan dan handal, sehingga disukai konsumen dan membangkitkan loyalitas penggunanya di seluruh dunia.

Melihat hal demikian jika melihat agresifitasnya para fanboy dan fangirl pada beberapa kasus, terlihat loyalitasnya telah melebihi batas, alias loyalitas yang kebablasan. Namun, dalam perspektif kompetisi produk, hal ini merupakan kemenangan.

Salam Apel.(k@)

Sumber gambar: Apple Fanboy, BGR, Steemit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *